RSS

dzaky community




Dua Tahun lalu, senyum yang tak terlupakan

4 Pendekatan Agar Anak Memiliki Kesadaran Mengamalkan Agamanya


Written By

Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
Pendiri Sekolah Orangtua PSPA

Mengenalkan agama pada anak adaah kewajiban orangtua. Tetapi pada kenyataannya tidak mudah untuk membuat anak memiliki kesadaran anak mengamalkan agama sampai mereka dewasa meski sejak kecil mereka sudah dikenalkan dengan agamanya. Kesadaran anak ditentukan oleh pendekatan apa yang dipakai orangtua untuk mengenakan agama pada anak.

PERTAMA, KETELADANAN.

Ini adalah hal yang tak bisa diganggu gugat. Mana mungkin kita menyuruh anak sholat tanpa kita pun disiplin sholat.
Tapi ini saja tidak cukup. Betapa banyak kita melihat kiri kanan kita, orangtuanya begitu rajin ke masjid, tapi anaknya yang remaja kok enggan ke masjid? Kurang teladan apa? Lah wong orangtuanya sudah mencontohkan!

KEDUA, PEMBIASAAN.


Kebiasaan beribadah sangat perlu, meski bukan satu-satunya. membiasakan beribadah pada anak adalah ikhtiar agar kita dapat menjadikan ibadah sebagai habbit untuk anak-anak kita. Jika sudah menjadi habbit, bukan tak mungkin anak-anak akan menjadi 'ringan' dalam ibadah setelah ia dewasa.

Tetapi ini saja pun tidak cukup. Jika hanya dibiasakan, tak sedikit anak sudah dibiasakan ibadah sejak kecil tapi karena memamg pikirannya 'kosong' dengan nilai-nilai Allah, maka sebagian mereka pun akhirnya enggan beribadah setelah dewasa.

KETIGA, INSTALLASI MOTIVASI

Dalam mengenalkan agama, sebagian orangtua mengenalkan agama dimulai dari kompetensi-kompetensi beragama. Jika orangtua mengenalkan agama hanya dimulai dari kompetensi-kompetensi (keterampilan) beragama: terampil sholat, terampil membaca qur'an, terampil ini dan itu, belum tentu anak akan kemudian mengamalkan agama kelak setelah dewasa.

Betapa banyak anak yang dari kecil bisa dan terampil sholat dari kecil, setelah dewasa enggan melaksanakan sholat. Berapa banyak dari kita yang terampil membaca Qur'an dari kecil, setelah dewasa memang masih membaca Qur'an hampir setiap hari, tapi berapa banyak dari kita yang termotivasi mengkaji isi Qur'an hampir setiap hari?

Pendekatan yang mungkin dapat ditambahkan dalam tarbiyah agama pada anak2 kita hari ini adalah bukan sekadar kompetensi beragama, tapi juga motivasi beragama. Sejak anak2 kita bisa membedakan tangan kanan dan mana tangan kiri sejak saat itulah orangtua dapat mengenalkan pada nilai baik dan buruk seperti yang direferensikan agama. Ingat, KESADARAN letaknya pada PIKIRAN, bukanlah pada tubuh. Maka membuat anak merasa sadar berarti menanamkan nilai pada pikiran anaknya terlebih dahulu tentang ibadah bukan sekadar nyuruh-nyuruh beribadah (mengendalikan tubuh).

Bagamana merubah pikiran anak? Installkan nilai-nilai, informasi kebaikan itu pada anak tentang Allah, tentang Rasul, setiap hari dengan tepat pada anak baik melalui dongeng, cerita, kisah, ngobrol setiap hari minimum setengah jam sama anak, membaca buku bersama, mengajak diskusi anak, atau apapun yang intinya kita menginstallkan nilai pada pikiran anak sehingga akhirnya menjadi program pikiran mereka dan sehingga mudah2an dapat menjadi motivasi buat hidup mereka.

KEEMPAT, KEDEKATAN EMOSIONAL

KEDEKATAN emosional orangtua anak akan menentukan penerimaan atau installasi nilai2 ini pada anak. orangtua yang cuek pada anak, orangtua yang mengabaikan anak, orangtua yang terlalu sibuk dengan urusannnya sendrii dan tidak punya waktu untuk anak dan hanya mengandalkan sekolah, ustadz atau tenaga 'outsourcing' lainnya dalam mengenalkan agama pada anak jangan berharap terlalu banyak anaknya dapat dekat dengan Tuhan-Nya jika orangtua sendiri tak dekat berusaha mendekati anak untuknya.

KEDEKATAN emosional orangtua pada anak juga akan berguna saat orangtua berusaha menanamkan kebiasaan beribadah pada anak. Jangankan soal ibadah yang perlu kesadaran spritualitas, soal belajar (akademik saja) misalnya terbukti, anak-anak di Jepang rata-rata 30 menit didampingi orangtua di rumah saat belajar ternyata indeks pretasi akademik lebih baik dibandingkan anak-anak di amerika yang rata-rata hanya 15 menit didampingi orangtua di rumah saat belajar.

Apalagi soal beragama, yang kemudian membutuhkan jangka waktu panjang untuk menanamkan nilai-nilai dengan benar dan tepat mulai dari Aqidah, ibadah, jinayah, amaliah, dll.

ghaida

factory visit with Griya

Shabu-shabu ala fiesta



Bahan:

* 100 gr Chicken Ball Fiesta
* 100 gr Chicken Tofu Fiesta
* 2 bh Sosis Fiesta, potong-potong
* 100 gr Keecho Fiesta
* 5 lembar bokcoy
* 800 ml air kaldu ayam
* 2 siung bawang putih, memarkan
* 1 batang daun bawang, potong-potong
* Garam, merica secukupnya



Cara Membuat:

1. Didihkan air kaldu, bawang putih, daun bawang,, merica dan garam.

2. Masukkan Chicken Ball Fiesta, Chicken Tofu, Sosis, Keecho, dan Bokcoy, masak hingga matang.

3. Sajikan selagi panas.



Hasil: 4 porsi


ghaida lagi mamam sate baso & sosis fiesta


Berawal dari seringnya membeli produk fiesta dengan menggunakan kartu member griya, tanpa diduga sebagai bentuk penghargaan pada konsumen diundanglah qta untuk mengunjungi pabrik pengolahan makanan yang berlokasi di Cikande-tanggerang Banten.
dengan menggunakan bis qta berangkat dengan suasana yang nyaman dan penuh kekeluargaan, bertemu dengan orang2 baru dari latar belakang yang berbeda2, dengan didampingi pihak managemen Griya dan juga Fiesta.
Dilokasi pabrik qta disuguhi berbagai kegiatan yang menyenangkan diantaranya Demo masakan ala fiesta dengan dibawakan oleh seorang chef dari kota bandung. tidak ketinggalan mencicipi produk2 unggulannya...
yang paling berkesan adalah kunjungan ke bagian produksi yg membuat qta semakin yakin atas kualitas produk, kehalalannya, kehigienisannya, sehingga kita smakin yakin qta telah memberikan asupan yang baik buat permata2 hati kami.
Tiada kata yang lebih tepat selain berucap syukur Alhamdulillah atas ilmu dan rizki yang tlah diterima...

Pensil



"filosofi pertama yang perlu diperhatikan yaitu bahwa pensil dapat menjadi pengingat kita kalau kita bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Yakni, mengingatkan bahwa seperti sebuah pensil ketika menulis, kita tidak boleh lupa bahwa ada tangan yang selalu membimbing langkah kita dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan. Dia selalu membimbing kita sesuai dengan ajaran-ajaranNya."

"filosofi kedua, Kamu bisa memperhatikan, bahwa saat proses menulis, kita kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil kita. Rautan itu seakan membuat si pensil menderita. Tetapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kehidupan manusia. Kita harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, termasuk berbagai ujian dan tantangan, karena itu semua yang akan membuat kita menjadi manusia yang lebih baik dan berkualitas."

"filosofi ketiga yang perlu kamu camkan adalah bahwa pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk menggunakan penghapus sebagai upaya memperbaiki kesalahan. Oleh karena itu, memperbaiki kesalahan dalam hidup ini bukanlah hal yang jelek atau buruk. Itu bahkan membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar. Hal ini sekaligus mengingatkan bahwa kita tak pernah luput dari berbagai jenis kesalahan."

"filosofi keempat yakni tentang bagian yang paling penting dari sebuah pensil. Jika kamu perhatikan, bagian yang paling bermanfaat bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalamnya. Begitu pula dengan kita. Karenanya, kita harus selalu memupuk hal-hal baik yang ada di dalam diri kita dengan terus meningkatkan kualitas dalam diri. Karena itu, kita perlu terus memupuk kekayaan mental dalam setiap tindakan kita."

"filosofi kelima adalah bahwa harus kita sadari jika sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan. Seperti juga manusia, kita harus selalu sadar dan waspada karena apa pun yang kita perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan dan goresan. Maka berhati-hatilah dalam berpikir, berucap, dan bertindak. Sehingga, goresan yang kita tinggalkan akan menjadi guratan yang memberi manfaat bagi diri dan orang lain."

Sahabat yang luar biasa,

Hidup adalah proses belajar dan berjuang tanpa batas! Dan, setiap saat kita tak bisa lepas dari berbagai unsur yang ada di sekeliling kita.

Sebagai manusia yang ber-Tuhan, kita harus memiliki nilai spiritual untuk mengajarkan diri agar selalu rendah hati. Kemudian, dalam menjalani kehidupan, kita selayaknya terus berusaha memoles diri secara kontinu agar dapat meningkatkan kualitas pribadi.

Tak lupa, saat melakukan berbagai kesalahan, kita belajar berbenah diri untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik. Saat kita maju, tak lupa untuk tetap belajar. Melalui sikap belajar yang konsisten, semoga apa yang telah dan akan kita pikir, ucapkan, dan perbuat, mampu menjadi berkat bagi diri sendiri dan bermanfaat untuk orang lain. Sehingga, hidup kita akan jauh lebih berarti.

Salam sukses, luar biasa!!!

Ghaida




ghaida yang selalu bikin gemes

Bandung Air Show 2010





menggagas ide kreatif

Kita tidak terbiasa untuk mengeluarkan ide-ide kreatif yang sebenarnya banyak sekali berkeliaran di benak kita. Terhadap hal-hal yang baru atau suatu ide yang dicetuskan oleh seseorang kebanyakan manusia sering kurang dapat menerimanya. Komentar-komentar negatif selalu akan menyerang, menganggap bahwa hal itu tidaklah mungkin dapat terwujud dan berusaha mempertahankan hal dan kondisi yang lama. Sulit sekali menerima sesuatu yang belum terbukti.

Padahal sebenarnya dari ide-ide itulah akan melahirkan penemuan-penemuan baru yang akan bermanfaat untuk kemashlahatan umat manusia. Setiap kita dapat membuat ide-ide kreatif yang akan bermanfaat untuk diri kita dan orang lain. Allah SWT telah meletakkan dasar bagaimana manusia itu dapat mempergunakan kemampuan akalnya dengan sebaik-baiknya sebagaimana dalam ayat berikut:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka.” QS. Ali Imran : 190 -191

Alam semesta merupakan sumber inspirasi bagi munculnya ide-ide yang kreatif. Allah SWT memerintahkan kita menggunakan akal untuk memikirkannya. Pemikiran itu muncul dari kita melakukan pengamatan, pengkajian, perenungan dan mengambil kesimpulan.

Sudah seharusnya mulai saat ini kita harus senantiasa mempergunakan akal kita untuk berfikir. Sebelum mata kita mulai berkurang penglihatannya mari kita gunakan untuk senantiasa membaca. Apakah itu membaca tulisan ataukah membaca fenomena alam. Kita juga harus mampu membaca sebuah peluang. Membaca situasi dan kondisi.

Jangan takut ide kita disepelekan orang lain. Lakukan saja apa yang menjadi ide positif kita. Tentunya ide-ide yang akan kita cetuskan itu senantiasa kita pikirkan secara mendalam dan mendetail. Sebelum orang lain mengkritik ide kita, kita sudah mengkritiknya terlebih dahulu.